Kamis, 25 Februari 2016

Jinan



Jinan


 
Ini bukan kisah cinta.

Ini hanya kisah tentang seseorang yang selalu ada, menyayangiku, dan terus setia bersamaku .
Tapi aku kehilangan orang itu..
Ya...
Dia..
Orang yang kusayangi...

***


Dia sahabatku, Jinan namanya. Anak laki-laki blasteran Indonesia-Korea yang menjadi sahabatku sejak 12 tahun lalu.  Ah, sebenarnya... ayahnya benar-benar Korea tulen. Dan ibunya, seorang wanita keturunan Tionghoa yang lahir di Indonesia. Jadi bisa kubilang, Jinan adalah seorang anak laki-laki keturunan Korea-China, bukan Indonesia-Korea. Alisnya tebal, matanya tipis, hidungnya mancung, rahangnya terlihat keras, dan ia juga memiliki sebuah lesung pipi di pipi kanannya. Sangat manis.

Jinan memiliki selera humor yang tinggi. Bahkan karna terlalu tinggi, aku tak bisa memahami apa yang sedang ia bicarakan. (maaf aku berlebihan).

Ia juga murah senyum. Dan hal ini membuatku teringat sesuatu.

Saat itu, ia baru saja tiba dari Korea. Aku memperkenalkannya pada beberapa temanku yang kebetulan saat itu sedang kerja kelompok dirumahku. Dan tentu saja ia menjadi artis dadakan disana.

“Jinan kamu ganteng!”

Jinan tersenyum.

“iya! iya! kamu cute banget uda kayak idolgroup korea”

Jinan tersenyum.

“Uda punya pacar belom,Nan?”

Jinan tetap tersenyum.

“heh lo! Jelek banget itu muka ampe bikin gue pengen muntah!”

Saat itu memang hanya Ari anggota laki-laki didalam kelompok. Aku tau ia kesal karena semua perempuan dikanan dan kirinya berteriak sekaligus meremas-remas jaketnya. Tapi Ari mengatakannya dengan senyum yang dipaksakan hingga wajahnya terlihat sangat aneh.

Dan ..... Jinan tetap tersenyum dengan tenang.

Teman-temanku memandangnya aneh. Sedangkan aku hanya bisa mengulum senyuman.

“eh Je, itu si Jinan kenapa? dari tadi gue puji cuma senyam-senyum doang. Di ejekin ama si Ari juga gak marah?”

“Jinan orangnya sabar banget ya? kok kayanya omongan Ari gak ngaruh apa-apa buat dia”

Kali ini aku tertawa. Kubisikkan sesuatu ditelinga Jinan, dan kemudian ia mengangguk mengerti.

“hmm.. sorry, but i can’t speak Indonesian. H-hanya...sedikit” Jinan menempelkan ibu jari dan telunjuknya untuk memperagakan ucapannya

“anjir! Pantesan gue ngomong apa dia gak nyahutin ah! Enak nih dikerjain”

Semua melotot, menarik jaket Ari ke lantai hingga membuat anak itu terjerembab dengan keras ke lantai.

“Gua cium elo nih kalo terus bahas soal itu,Je!”

Jinan selalu mengatakan kalimat itu saat aku mengingatkannya pada insiden ‘tersenyum’ dirumahku 9 tahun lalu.

“yaudah cium sini. langsung dah cewek-cewek pada nangisin elo hahahaha!!”

Aku tak pernah bisa berhenti membuatnya mengingat hal itu. Entah apa yang membuatnya malu,aku juga tak mengerti sebenarnya.


Ah! Jinan orang yang sangat peduli lingkungan. Ia tak akan membiarkan sampah tercampakkan begitu saja di jalan. Ia hanya akan memungutnya tanpa berkata apapun, kemudian membuangnya ke tempat sampah. Selama ini aku selalu mengikuti apa yang ia lakukan. Tapi terkadang aku tak melakukannya karna Jinan sudah menghabiskan sampah-sampah itu sebelum aku membantunya.

“bumi itu harus dijaga,Je. Kita hidup dibumi itu numpang. Kalo kita bikin kerusakan, Tuhan bisa marah sama kita. Bumi juga ikut marah. Kalo misal bumi uda marah, terus dia nelen gua bulet-bulet, susah entar.”

Air mukanya terlihat serius. Tapi aku menahan tawa dan berusaha tetap memperhatikan wajahnya. “hm... kok bisa?”

Ia melipat tangannya didepan dada, “iyalah, cowok paling cakep ilang ditelen bumi siapa yang gak bingung hayo? Belom lagi kalo gua ilang elo jadi sendirian. Gua mana tega liat elo nangisin gua?”

Kali ini aku tak bisa menahan tawa, kutendang kakinya keras.

“Sialan!Rese lu,Nan! haha!”


Jinan bisa dibilang adalah pangeran sekolah.  Wajah dan tinggi tubuhnya yang berbeda selalu menjadi pusat perhatian, belum lagi Jinan adalah Violinis seperti ibunya. Dan tentu saja penggemarnya  bertebaran di dalam sekolah, juga disekolah-sekolah tetangga.

“Jinan ganteng banget!!”

“gimana sih caranya deket sama diaa?!!”

Aku hanya diam . Tangan-tangan yang menarikku ini sudah biasa membuat bajuku robek. Terkadang membuat kancing bajuku putus hingga harus kusambung dengan jarum. Aku menyebut mereka ‘fans liar sang pangeran’.

“Elo kan jelek Je, kok bisa deket ama si Jinan??”

Aku tak tersinggung sebenarnya. Terlebih saat aku mulai berteman dekat dengan Jinan, aku sangat sadar muka pribumi sepertiku akan sedikit aneh jika harus disandingkan dengan Jinan. Aku hanya tersenyum.

“si Jinan doyan cewek jelek kayak gue. Bukan kayak elo yang doyan dandan macem bencong perempatan”

Dan setelah itu, Jinan datang dan menyuruhku pergi sebelum perempuan-perempuan itu menjambak kerudungku dengan kejam. Tentu saja setelah memberikan senyuman tampannya dan melambaikan tangan pada penggemarnya yang membuatku sesak.

Jinan memang selalu datang disaat yang tepat.

“elo pinter banget kalo cari masalah. Ujungnya gua kudu korbanin senyum ganteng gua buat semua cewek”

Aku mengangguk, “punya temen ganteng mah harus dimafaatin dengan baik,Nan. Gue jamin idup lo jadi barokah, hehe”

“Anjir haha! untung lo temen gua. Jadinya gua dapet barokah “
 

Jinan tak pernah bersikap egois seperti kebanyakan anak laki-laki yang kukenal. Yah..mungkin hanya persaanku. tapi sumpah! Jinan tak pernah melawan dan selalu mengiyakan jika orang lain memerintahkan sesuatu. Ia mudah mengalah.

“Jinan, fotocopy-in soal dari Bu Endah dong, gua ada urusan nih”

Saat itu aku dan Jinan sudah berencana makan besar di kantin. Tiba-tiba Saddam mencegat Jinan dan menyodorkan beberapa lembar soal Matematika didepannya. Aku tak suka jika orang meminta bantuannya disaat seperti ini. Saat itu aku sudah tak dapat menahan rasa kesal. Aku mendorong Jinan menjauh, menarik kertasnya, dan mengembalikannya pada Saddam.

“heh Dam! Elo ketua kelasnya, yang disuruh Bu Endah juga elo kan? Ngapain jadi suruh-suruh si Jinan heh!?”

Saddam terlihat tak peduli. Mungkin sudah banyak yang tau bagaimana seorang Jey jika mulai berceramah panjang lebar hingga membuat telinga-telinga itu tuli sesaat.

“udah ah gak usah marah-marah, gua iklas kerjainnya. Elo temenin gua fotocopy sekalian dah,”

Kertas soal itu sudah kembali ke tangan Jinan. Saddam tersenyum –sok– manis. Allhasil rencana awal batal, dan aku harus ikut Jinan melaksanakan niat baiknya.

Pernah saat itu Jinan dan aku berencana membawa mobil baru Jinan ke jalanan. Jinan sudah siap membuka pintu kemudi, tapi kemudian aku masuk dan duduk di kursi kemudi.

“Eh Je, tempat lo disebelah gua, ini tempat gua”

“Gue gak mau! Gue yang setir, elo duduk disebelah gue!”

“Elo kan belom punya SIM A. Kalo kena polisi gimana?”

“Gak bakal! Gue pinter cari jalan pintas. Please Naaan, sekali ini doang nyetirnyaa! Mobil baru nihh minta diperawaninn!!”

Seperti biasa, Jinan hanya akan menghela nafas dan mengangguk pasrah. aku? Tentu saja aku tertawa senang dan dengan sengaja membukakan pintu kursi disebelahku untuk Jinan.

Tapi, kejadian tak terduga menimpa. Aku menabrakkan mobil Jinan ke pagar rendah dipinggir jalan. Moncong depan mobilnya rusak, lekukan dan lecet dimana-mana. Aku menjerit, begitu juga Jinan yang seketika terlonjak kaget. Tak lama, polisi datang. Dan disaat itulah aku mulai menangis keras. Bahkan sesampainya kami di kantor polisi satu jam kemudian, aku tetap menangis. Bahkan semakin keras.

“maafin gue Nan...gue gak tau kejadiannya bakal kayak gini..”

“uda gak usah lo pikirin. Yang penting kita masih idup aja uda syukur banget,Je”

“t-tapi mobil lo-....”

“semua udah diurus bokap gua kok, Je”

Tangisku bertambah keras, “tuhkan Naaannn, gue bikin elo sama orang tua lo susah. Mending gue dipenjara sekalian aja biar gak nyusahin kalian”

Jinan tertawa, “yaelah Je, mending mobil baru gua ancur daripada sahabat macem elo yang ilang. Kalo elo dipenjara ntar gua kangen gimana?”

“Naaan gue gak bercanda ihhh!”

“iya..iya, gua juga gak bercanda barusan Je. Gua suka kangen kalo elo gak ada, makanya gua gak mau lo kenapa-kenapa.”

Aku diam.

“soalnya cewek jelek kayak elo uda jarang,Je. Sayang kalo dibiarin pergi” 

“NAAN!! ELO KAMPRET BANGET SUMPAH!!”

Jinan tertawa terpingkal-pingkal.

Jinan itu anak cerdas sejak lahir. IQ tinggi, juara pararel setiap tahunnya dari SD sampai SMA. Terkadang orang tuaku terus mendesakku untuk meniru kebiasaan Jinan yang selalu belajar dengan tekun. Dan belajar tekun itu bukan sesuatu yang mudah untukku. Tapi sesuatu yang sudah biasa untuk Jinan.

“Je, muka lo makin jelek aja kalo kayak gitu? Cerita gih”

“gue gak jelek. Elo tuh kalo pinter bagi-bagi napa,Nan. Gua kan keki juga kalo dibandingin ama elo dari SD sampe SMA gini”

Jinan tertawa, telunjuknya terulur menekan kepalaku, kemudian ia memejamkan matanya.

“uda kerasa belum?”

“hah? Kerasa apaan?”

“kerasa pinter gua nular ke elo ah”

“yaelah Nan! Heran gue kok elo bisa pinter banget padahal kelakuan oon banget!” kutepis tangannya hingga membuatnya nyaris terjungkal. Ia tertawa lagi.

“ya abisnya elo sendiri kan yang tadi minta gua bagi-bagi? Sekarang yang oon siapa?”

“iyadah elo yang paling pinter! Puas?!”

“yaelah gitu aja marah,Je. Becanda dah. Gini deh, gua janji bakal bantuin elo belajar, gratis gak pake bayar, gak pake ngambek-ngambek macem guru les lo yang dulu-dulu. Gimana?”

“janji bantuin beneran nih?”

“iyee”

“iklas gak?”

“demi lo iklas,Yang”

“basi ah manggil pake Yang-Yangan”

“lah? Abis elo marah-marah mulu macem eyang-eyang”

“KAAANNNN MAKIN RESE LU,NAAAN!!”


Pernah suatu kali aku bertanya-tanya, kenapa Jinan tak pernah menceritakan seseorang yang ia sukai atau semacamnya. Aku selalu bercerita panjang lebar soal banyak laki-laki yang kusuka, menceritakan bagaimana aku menyukai seseorang laki-laki disekolah tapi tak pernah bisa mendekatinya.

“yaelah Je, deketin gua yang kayak boyband aja bisa. Masa sama dia elu keder?”

“gak gitu,Nan. Kalo ama elo mah beda! Sama dia mah dilirik aja uda deg-deg serr gituu. Apalagi kalo hadap-hadapan, bisa mimisan ditempat gua ntaaar”

“terus?”

“apanya terus?”

“terus lo tetep mau ngedektin ato nyerah?”

“hmmm..”

“apaan woy?”

“mau jadi penggemar rahasia ajalah,Nan.lebih afdol gitu kayaknya, hmm”

“halah kan.. elu suka nyerah duluan,Je”

“yakali kalo muka gue uda kayak artis Korea mah siapa aja bisa gue gebet. Muka pas-pas an gini pede banget mau gebetin orang cakep”

Jinan terkekeh, “lah buktinya gua bisa lengket ama lo. Padahal bagi gua muka lu gak pas-pas-an”

“hah?? Masak muka gue gak pas-pas an?? Biasanya kalo elu yang ngomong gitu berarti gue emang gak pas-pasan”

“elo emang gak pas-pasan, tapi jelek banget!”

“SIALAN LOO!! DARI PADA ELO MUKA GANTENG GAK PUNYA GEBETAN!”

Ia tertawa, “bukan gapunya,Je. Gua sih tinggal tunjuk aja bisa langsung dapet. Masalahnya buat dapetin yang bener-bener serius itu susah,Je. Lagian masa muda jangan lu abisin buat mikirin gebetan ato calon istri. Toh jodo gak kemana”

“yah tapi kan keburu lo tua kalo nungguin jodoh. Elo mah harusnya nyari”

“gak perlu ah. Gua males nih mikir kek gini-ginian.bikin ribet.”

Ia membenahi posisi duduknya, “lagian nih ya Je, punya elo di kehidupan gue aja uda alhamdulillah wa syukurillah. Elo mah segalanya buat gua,Je”

“Nan, lo lagi gombalin gue?”

“ngapain gua gombalin elu? Macem gak ada cewe lain aja”

“kan..resenya balik..”

“gua cuma gak tega aja ninggalin elo sendirian ngejomblo, luntang-lantung kemana-mana sendirian padahal biasanya ngerengek minta anter. Belom lagi lu gaada kendaraan sendiri, mau ngapain lo kalo gak ada gua?

“BUNUH DEDE SEKARANG AJA DEH BIAR PUAS!!”

“huahaha! Udah ah, gua serius yang tadi. Punya elo aja udah cukup buat gua. Gausah nambah-nambah”

“duh jadi baper gue”

“iyelah, kalo nambah makin berat entar idup gua”

“JINAN JELEK!!”

Aku pergi, sedangkan Jinan terpingkal-pingkal dikursinya.


Jinan bukan orang yang mudah sedih ataupun marah. Jika sesuatu yang buruk tengah menimpanya, ia akan memilih diam dan tersenyum jika ada yang bertanya. Tapi Jinan sangatlah perasa. Maksudku... perasaannya lembut tapi tegar. Berbeda dengaku yang terlihat tegar tapi sangat rapuh seperti kaca tipis.

Pernah satu kali ia terlihat sedikit lebih pendiam dari biasanya, tentu saja aku segera membawanya ketempat yang sepi dan mulai memberi pertanyaan beruntun yang masih terus ia balas dengan senyuman. Tapi kemudian..

Tes...

Jinan menangis. Membuatku menahan nafas, tak sanggup melontarkan pertanyaan lagi. Mendadak buntu.

“J-jinan...”

“Je, gua gak bisa nahan nangis”

Aku menunduk, “kalo gak kuat gausah cerita,Nan.”

“enggak. Gua tetep mau cerita sama lo”

“yaudah cerita aja”

“semalem nyokap minta anterin ke rumah Tante Eni. Gua parkirinnya deket portal perumahan. Pas udah selesai itu acara, gua mundurin mobil biar nyokap bisa langsung naik. Trus gua ngerasa ban mobil gua nginjek sesuatu..”

“hah? Lo nginjek apaan,Nan?”

Ia terdiam sesaat.

“gua nginjek kucing Je! Kucingnya mati! Gua panik ampe itu kucing gua bawa pulang terus gua kuburin di depan halaman gua!”

“........”

Aku tak bicara. Rasa-rasanya air mata aku hampir jatuh karna menahan tawa. Tapi aku tak berani melakukannya karna Jinan masih menangis didepanku. Aku mengangguk-angguk kecil.

“t-terus kenapa lo nangis?”

“kok masih tanya lo? Ya kasian kucingnya Je! Gua ngerasa bersalah! Itu kucing pasti punya keluarga, trus gua bunuh dia pake ban mobil gua?”

Aku menutup wajahku,menahan tawa, kemudian kembali berekspresi datar.

“Nan, ini lo serius kan?”

“2 rius malah Je! Lo gak liat air mata gua uda nganak sungai gini!?”

Aku menghela nafas, kemudian tersenyum.

“jujur ya Nan,gua gak ngerti harus kasih respon apa kali ini. tapi yang pasti, gua lagi nahan ketawa sekarang. Gue mohon jangan terseinggung dulu. Tapi serius gue juga ikut kaget dan kasian sama itu kucing”

Jinan menghapus air matanya kemudian menghela nafas panjang.

“gua alay banget ye? Udah lupain aja. Biar dosanya gua yang tanggung sendiri”

Aku hanya bisa mengulum senyuman dan mengangguk kembali. Tentu saja aku tak bisa tertawa diatas penderitaan batin Jinan.


Jinan tak pernah marah jika aku terus memaksanya walaupun saat itu ia sedang melakukan sesuatu hal yang lain. Ia lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Walaupun itu sepele sekalipun.

“Jinan, benerin kabelnya dilanjutin entar aja ya? anterin gue dong, mau ambil barang nih”

“hah? Barang apaan? Penting banget?”

“hmm.. gak ah, kalo gue kasi tau ntar elo gamau nganterin”

“bilang dulu barang apaan. Gua janji nganterin, asal barang yang mau lo ambil bukan barang haram”

“anjir, ya enggaklah,Nan! Gue mau ambil poster Bigbang,Winner, sama Ikon di temen gue”

Jinan menggelengkan kepala, “dasar maruk, uda punya temen macem Boyband gini masih aja suka Boyband korea”

“dih, elo boyband apaan? Ngedance aja macem ayam keseleyo, gerakannya kejang-kejang mulu macem orang ayan huahahah!!”

“sialan lo! Jadi anterin gak nih?”

“jadi doong!”

“yokdah, berangkat”

Aku tersenyum lebar dan bersiap keluar.


***


Panas terik matahari siang ini tak kuhiraukan. Perihnya panas matahari yang menusuk kedalam kulit tangan dan wajahku, tak seperih seperti apa yang kurasakan dalam dadaku. Aku mulai tak dapat bernafas dengan baik. Air mata terus mengalir dibalik kacamata hitamku dan jatuh membasahi kerudung hitamku. Beberapa kali tubuhku limbung hingga Nando, adik Jinan, menahan tubuhku agar tidak terjatuh.

“tabah kak.. Kak Je pasti tau Kak Jinan gak suka liat Kak Je nangis. Kak Jinan pasti pengen Kak Je kuat..”

Aku mengangguk, menahan tangis yang semakin keras dan mengguncang seluruh tubuhku.
Pusaran itu kini penuh dengan bunga mawar. Suara doa saling bersahutan. Beberapa kali kudengar suara tangisan mengencang di seberang pusaran Jinan. Kulihat tante Tika, ibu Jinan, memeluk suaminya, om Alex, dengan menangis kencang. Aku tau, semua orang tengah kehilangan Jinan sekarang. Termasuk Nando. Bukan hanya aku. 

Nando yang kini masih menahan tubuhku terlihat sendu walaupun bibirnya terus mengembangkan senyuman. Senyuman yang miripseperti milik Jinan. Tapi bukan senyuman Jinan. Bisa kulihat air mata menggenang di sudut mata tipisnya, tapi dengan cepat ia seka air mata itu dan tak membiarkannya mengalir.

“Jinan, maaf gue gak nemenin di konser terakhir lo.Harusnya waktu itu gue dateng, ada buat elo, kasih semangat ke elo.. maafin gue yang uda sering bikin lo susah, temen paling egois dan berisik sampe bikin lo sebel...” 

air mataku kembali mengalir.

“Jinan, gue kangen suara lo, gue kangen senyuman lo, gue kangen candaan sama ejekan lo, gue kangen banget sama elo Jinan..”   

kini air mataku mengalir semakin deras. Nando mengusap pundakku pelan.

Semua orang menunduk, mengikuti acara pemakaman dengan khitmat. Semua merasakan kepedihan karena kehilangan orang yang dicintai. Beberapa saat pandanganku mengabur, tubuhku meringan, dan kemudian semua menjadi gelap..


***


Jinan mengalami kecelakaan mobil saat ia sedang perjalanan pulang dari Bandung. Ia bilang, ia mengikuti sebuah konser Biola disana. Saat itu aku sedang ada ujian di kampus dan tak bisa kutinggalkan. Dengan sangat terpaksa, aku tak bisa menonton Jinan bermain Biola. Dan tak kusangka itu adalah permainan Biola terakhirnya. Aku kembali menangis. Tiba-tiba aku merindukan senyumnya.

Kini aku berdiri didalam kamarnya. Memperhatikan setiap sudut kamar dimana aku dan Jinan pernah bercengkrama dan tertawa berasama. Sungguh, aku merindukannya.

“Jinaaan! Jangan pake baju itu!! Banci-banci pada ngedeketin elo entar!!”

“hah? Gua ganti lagi nih?”

“iya! cepet ganti ato gue gamau jalan bareng elo!”

“yaelah, iyadah”


Aku tersenyum..


“Jinan, bagus mana? ini atau itu?”

“kayaknya yang itu deh”

“ah enggak, bagus ini”

“yang itu aja deh Je, keliatan lebih kalem. Elu anggun kalo pake baju itu”

“gue gak suka yang anggun-anggun! Gue yang ini aja!”

Jinan menghela nafas, kemudian tertawa “yauda, iya dah lu cocok pake yang mana aja,Je”


Air mata mulai mengalir....


“Nan, Gue mau naik Roller Coster yaa?”

“eh? Elo kan baru makan,Je? Jangan dulu deh”

“ih elo takut kan? Cemen lo ah”

“yaelah, ntar kalo elo muntah disono gimana,Je?”

“POKOKNYA GUE MAU NAIK ITU, JINAAAANNN!!”

“busetdah. iya Je, ayokdah ngantri”

Kuhela nafasku perlahan, menahan isak tangis yang sebenarnya sejak tadi menohok keras ulu hati. Kuraih kembali kenop pintu kamar Jinan dan bersiap menutupnya. Kupejamkan mataku sejenak, membiarkan air mata mengalir lembut di kedua pipiku. Aku tersenyum.
“Bye Jinan.. Gue bakal hidup bahagia demi lo. Gue sayang elo..”
Kututup  pintu kamarnya perlahan dan meninggalkan rumah Kamar Jinan dengan berat hati.

Selamat tinggal Jinan....
Dimanapaun dan sampai kapanpun..
Kau tetap sahabat terbaikku...

Aku menyayangimu...                              


THE END


Cuap-cuap Author


Hai! Ini Cerpen Romance perdana yang nggak pernah di post dan ngedekam di dalem folder. Sebenernya mau jadi Songfict (dari lagunya Ikon – Airplane). Tapi gaada mood bikin Fanfict jadinya bikin jadi cerpen biasa pake nama tokoh orang biasa. Oiya, buat penggemar Ikon pasti nama tokoh utama nanti gaakan asing hehe. Tapi serius suka banget sama namanya. Jinan. Wkwk

Sebelumnya saya minta ijin Jika ada kesamaan nama tokoh (selain Jinan) itu tidak disengaja. Ini bukan kisah nyata seutuhnya. Tapi murni beberapa potongan kisah ini kisah nyata author (LOL). Jadi intinya separuh nyata, separuh fiksi/?









Tidak ada komentar:

Posting Komentar